Jadi ini video beliau yang main bareng sama Holland Metropole Orchestra, melodi dan riff-riff khas dari om satu ini emang ga ada duanya sama sekali, simple, ringan, dan enak banget di telinga.

Emang pantes banget kalo om Steve Vai ini masuk jajaran gitaris papan atas sampai sekarang. Fakta bahwa om Steve Vai seorang diri merubah warna musik Whitesnake di tahun 1989 lewat album Slip of the Tongue, sampai anggota band lain juga mengakui kalo album itu udah bukan Whitesnake lagi, jadi penunjang CV om Steve Vai itu sendiri.

Well, buat saya album itu emang jadi favorit banget buat Whitesnake, suara dari David Coverdale makin kerasa karismanya dengan gaya permainan Steve Vai. Walaupun pada kenyataannya setelah Steve Vai masuk, Whitesnake cuma bertahan tour 1-2 tahun. Dengan alasan David Coverdale udah bosen, ga salah sih, dari awal itu Whitesnake juga cuma David Coverdale isinya, bahkan waktu reunion tahun 2002 kemarin juga semua membernya kebanyakan baru dan yang milih David Coverdale semua. Well, ketika seseorang punya power dan skill buat melakukannya, itu ga salah sama sekali. Cuma sayang aja Steve Vai ga masuk lagi.

Listening to A Little Reminder That I’ll Never Forget by Lostprophets

"I still shed, shed the tears. And try to overcome the fears. For time it tainted, poisoned me. But does you’ve crucified me again?"

Mungkin ini lagu yang paling cocok buat menggambarkan kondisi anggota Lostprophets karena ulah Ian Watkins, dan sekarang mereka udah move on dan bikin single baru, so happy for them. Nambah lagi list album yang menarik buat ditunggu buat akhir tahun ini. – Preview it on Path.

Single baru dari ex-Lostprophets (Richard Jamie Oliver, Stuart Richardson, Luke Johnson, Mike Lewis, Lee Gaze) + vokalisnya Thursday, Geoff Rickly, Meskipun lagu ini tipikal singlenya Lostprophets banget, somehow jadi berasa aneh kerena suaranya Geoff Rickly kurang berat. Entah apa itu juga yang bikin musik mereka jadi lebih lambat. Tapi tanpa melihat ke Lostprophets, album ini emang terlihat prospek. Meskipun Lee Gaze udah buka coffee shop, Richar Jamie Oliver sudah berkutat dengan kanvas dan pamerannya, sentuhan mereka tetap ada. Totally made my day!

Sempet excited banget waktu lihat ada Heroes of Dragon Age. Game Dragon Age buat mobile. Tapi begitu dimainin ternyata jelek banget, gameplaynya aneh. Loadingnya lama, harus pake koneksi internet. Salah pilih gamehouse ini kayanya. :( – View on Path.

Sempet excited banget waktu lihat ada Heroes of Dragon Age. Game Dragon Age buat mobile. Tapi begitu dimainin ternyata jelek banget, gameplaynya aneh. Loadingnya lama, harus pake koneksi internet. Salah pilih gamehouse ini kayanya. :( – View on Path.

wildcat2030:

But What Would the End of Humanity Mean for Me? -Preeminent scientists are warning about serious threats to human life in the not-distant future, including climate change and superintelligent computers. Most people don’t care.  - Sometimes Stephen Hawking writes an article that both mentions Johnny Depp and strongly warns that computers are an imminent threat to humanity, and not many people really care. That is the day there is too much on the Internet. (Did the computers not want us to see it?) Hawking, along with MIT physics professor Max Tegmark, Nobel laureate Frank Wilczek, and Berkeley computer science professor Stuart Russell ran a terrifying op-ed a couple weeks ago in The Huffington Post under the staid headline “Transcending Complacency on Superintelligent Machines.” It was loosely tied to the Depp sci-fi thriller Transcendence, so that’s what’s happening there. “It’s tempting to dismiss the notion of highly intelligent machines as mere science fiction,” they write. “But this would be a mistake, and potentially our worst mistake in history.” And then, probably because it somehow didn’t get much attention, the exact piece ran again last week in The Independent, which went a little further with the headline: “Transcendence Looks at the Implications of Artificial Intelligence—but Are We Taking A.I. Seriously Enough?” Ah, splendid. Provocative, engaging, not sensational. But really what these preeminent scientists go on to say is not not sensational. “An explosive transition is possible,” they continue, warning of a time when particles can be arranged in ways that perform more advanced computations than the human brain. “As Irving Good realized in 1965, machines with superhuman intelligence could repeatedly improve their design even further, triggering what Vernor Vinge called a ‘singularity.’” Get out of here. I have literally a hundred thousand things I am concerned about at this exact moment. Do I seriously need to add to that a singularity? (via But What Would the End of Humanity Mean for Me? - James Hamblin - The Atlantic)

wildcat2030:

But What Would the End of Humanity Mean for Me?
-
Preeminent scientists are warning about serious threats to human life in the not-distant future, including climate change and superintelligent computers. Most people don’t care.
-
Sometimes Stephen Hawking writes an article that both mentions Johnny Depp and strongly warns that computers are an imminent threat to humanity, and not many people really care. That is the day there is too much on the Internet. (Did the computers not want us to see it?) Hawking, along with MIT physics professor Max Tegmark, Nobel laureate Frank Wilczek, and Berkeley computer science professor Stuart Russell ran a terrifying op-ed a couple weeks ago in The Huffington Post under the staid headline “Transcending Complacency on Superintelligent Machines.” It was loosely tied to the Depp sci-fi thriller Transcendence, so that’s what’s happening there. “It’s tempting to dismiss the notion of highly intelligent machines as mere science fiction,” they write. “But this would be a mistake, and potentially our worst mistake in history.” And then, probably because it somehow didn’t get much attention, the exact piece ran again last week in The Independent, which went a little further with the headline: “Transcendence Looks at the Implications of Artificial Intelligence—but Are We Taking A.I. Seriously Enough?” Ah, splendid. Provocative, engaging, not sensational. But really what these preeminent scientists go on to say is not not sensational. “An explosive transition is possible,” they continue, warning of a time when particles can be arranged in ways that perform more advanced computations than the human brain. “As Irving Good realized in 1965, machines with superhuman intelligence could repeatedly improve their design even further, triggering what Vernor Vinge called a ‘singularity.’” Get out of here. I have literally a hundred thousand things I am concerned about at this exact moment. Do I seriously need to add to that a singularity? (via But What Would the End of Humanity Mean for Me? - James Hamblin - The Atlantic)

[2014] The Fray - Helios
Tracklist:
Hold My Hand
Love Don’t Die
Give It Away
Closer to Me
Hurricane
Keep on Wanting
Our Last Days
Break Your Plans
Wherever This Goes
Shadow and a Dancer
Same As You
Winter Sun (Japan Version Bonus Track)
500.000 Acres (Japan Version Bonus Track)
Beberapa hari yang lalu baru sadar kalo The Fray ini release album baru, The Fray ini salah satu band favourite saya, agak mainstream sih, tapi warna musik mereka dan nada-nada pianonya itu nyaman banget di telinga.
Buat saya pribadi hampir semua musik The Fray itu ga punya perbedaan yang signifikan, baik dari cara nyanyi vokalisnya, tempo musik, nada-nada, maupun waktu si alat-alat musik itu masuk. Ada yang bilang “Bukannya kalo lagu kaya gitu malah cepet bikin bosen?”. Dan anehnya malah saya ga bosen sama sekali dengerin 3 album The Fray yang kemarin. Dari 3 Album mereka, saya jarang banget bisa hapal judul 1 lagunya, karena selalu dengerinnya 1 Album, dan saya ngerasa aneh kalo album-album The Fray ini cuma di denger 1 lagu aja. Dan kenapa ga bikin bosen, karena lagu-lagu mereka itu cocok banget di denger secara casual, sambil ngelakuin apapun tetep kerasa enak, dan somehow The Fray ini selalu magically bisa ngebangkitin semangat lewat tempo naik turun mereka. 
Tapi semua berubah ketika denger album ini, somehow saya beranggapan mereka bakal membuat Album biasa yang mendayu-dayu dan mudah dilupakan judul lagunya. Entah emang mereka sudah mulai keluar jalur atau emang mereka bereksperimen banget di album ini. emang sih, di lagu awal Hold My Hand itu menjawab harapan itu, tapi di lagu selanjutnya langsung kaget, tempo dan  ketukannya jadi naik banget dan bukan The Fray banget, sampe di lagu Hurricane yang Techno-Pop banget. Disatu sisi saya agak kecewa, tapi disisi lain, it’s not that bad, it’s just difference, Mulai lagu Keep on Wanting, nuansanya belum sepenuhnya jadi nuansa The Fray lagi, tapi seengganya tidak berbeda jauh banget kaya di 4 lagu awal setelah Hold My Hand.
Seandainya saya punyanya album normal, bukan yang Japan version, mungkin Same As You adalah lagu yang bagus banget buat menutup Album, penataan lagu di Album ini emang mengecewakan di awal, cuma ditutup dengan indah banget, walaupun lagu penutupnya bukan The Fray banget, mungkin harusnya lagu mereka yg kaya Syndicate atau Heaven Forbid cocok juga jadi penutup.
Ah, ini sih bakal semaleman denger 3 Album dan 2 EP The Fray yg lalu, :)Nb: Jadi inget Lostprophets yang selalu punya lagu penutup album yang menurut saya bagus banget dan ga bakal cocok lagunya kalo di taruh tengah. Ah, masih nunggu project mereka yang baru dengan Vokalis yang baru, walaupun tetep ga bakal ada yang menggantikan Ian Watkins, terlepas dari apapun yang sudah dilakukannya.

[2014] The Fray - Helios

Tracklist:

  1. Hold My Hand
  2. Love Don’t Die
  3. Give It Away
  4. Closer to Me
  5. Hurricane
  6. Keep on Wanting
  7. Our Last Days
  8. Break Your Plans
  9. Wherever This Goes
  10. Shadow and a Dancer
  11. Same As You
  12. Winter Sun (Japan Version Bonus Track)
  13. 500.000 Acres (Japan Version Bonus Track)

Beberapa hari yang lalu baru sadar kalo The Fray ini release album baru, The Fray ini salah satu band favourite saya, agak mainstream sih, tapi warna musik mereka dan nada-nada pianonya itu nyaman banget di telinga.

Buat saya pribadi hampir semua musik The Fray itu ga punya perbedaan yang signifikan, baik dari cara nyanyi vokalisnya, tempo musik, nada-nada, maupun waktu si alat-alat musik itu masuk. Ada yang bilang “Bukannya kalo lagu kaya gitu malah cepet bikin bosen?”. Dan anehnya malah saya ga bosen sama sekali dengerin 3 album The Fray yang kemarin. Dari 3 Album mereka, saya jarang banget bisa hapal judul 1 lagunya, karena selalu dengerinnya 1 Album, dan saya ngerasa aneh kalo album-album The Fray ini cuma di denger 1 lagu aja. Dan kenapa ga bikin bosen, karena lagu-lagu mereka itu cocok banget di denger secara casual, sambil ngelakuin apapun tetep kerasa enak, dan somehow The Fray ini selalu magically bisa ngebangkitin semangat lewat tempo naik turun mereka. 

Tapi semua berubah ketika denger album ini, somehow saya beranggapan mereka bakal membuat Album biasa yang mendayu-dayu dan mudah dilupakan judul lagunya. Entah emang mereka sudah mulai keluar jalur atau emang mereka bereksperimen banget di album ini. emang sih, di lagu awal Hold My Hand itu menjawab harapan itu, tapi di lagu selanjutnya langsung kaget, tempo dan  ketukannya jadi naik banget dan bukan The Fray banget, sampe di lagu Hurricane yang Techno-Pop banget. Disatu sisi saya agak kecewa, tapi disisi lain, it’s not that bad, it’s just difference, Mulai lagu Keep on Wanting, nuansanya belum sepenuhnya jadi nuansa The Fray lagi, tapi seengganya tidak berbeda jauh banget kaya di 4 lagu awal setelah Hold My Hand.

Seandainya saya punyanya album normal, bukan yang Japan version, mungkin Same As You adalah lagu yang bagus banget buat menutup Album, penataan lagu di Album ini emang mengecewakan di awal, cuma ditutup dengan indah banget, walaupun lagu penutupnya bukan The Fray banget, mungkin harusnya lagu mereka yg kaya Syndicate atau Heaven Forbid cocok juga jadi penutup.

Ah, ini sih bakal semaleman denger 3 Album dan 2 EP The Fray yg lalu, :)

Nb: Jadi inget Lostprophets yang selalu punya lagu penutup album yang menurut saya bagus banget dan ga bakal cocok lagunya kalo di taruh tengah. Ah, masih nunggu project mereka yang baru dengan Vokalis yang baru, walaupun tetep ga bakal ada yang menggantikan Ian Watkins, terlepas dari apapun yang sudah dilakukannya.

I either eat too much or starve myself. Sleep for 14 hours or have insomniac nights. Fall in love very hard or hate passionately. I don’t know what grey is. I never did.

(via hazelhirao)

(via vanezzs)

Listening to Heaven and Hell by Black Sabbath

Album pertama naiknya panji Dio dalam Black Sabbath, mungkin tambahan CV buat posisi Dio sebagai raja dari musik metal yg sampai sekarang belum ada yg menggantikan posisinya walaupun beliau sudah meninggal. Di lagu inipun banyak pujaan-pujaan terkait Dio dan singgasana nyamannya, tapi entah kenapa selama dengerin lagu ini yg ada cuma terkagum-kagum sama permainan bassnya kakek Geezer Butler, bahkan Riff nya Tony Iommy masih kehitung ringan di lagu ini. Ya pendapat pribadi sih, black sabbath itu lebih enak kalo sama Kakek Ozzy Osbourne, suara Dio itu lebih cocok sama gitar catchy yg ga terlalu berat kaya waktu di Rainbow bareng sama Ritchie Blackmore. Suara Dio kurang gelap dan mencekam untuk band yg menciptakan aliran Heavy Metal ini. Just saying… – Preview it on Path.

Two decades on and Cobain remains the archetypal tortured icon; beaten only by Bob Marley, Che Guevara and Jesus Christ as the most marketable dead guy in the world.